Mungkinkah seorang yang masih muda menjadi pemimpin rohani bagi orang-orang yang usianya lebih tua? Umumnya, yang lebih pantas untuk menjadi pemimpin rohani adalah orang yang usianya lebih tua. Akan tetapi, ada pula kondisi yang sebaliknya. Misalnya, raja Daud pernah berkata, "Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu." (Mazmur 119:100). Demikian pula, rasul Paulus pernah berkata kepada Timotius, "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12). Dalam bacaan hari ini, raja Yosia yang masih muda (berusia dua puluh tahun; 34:3 ) melaksanakan reformasi yang luar biasa. Dia membersihkan kerajaan Yehuda dari semua bekas penyembahan kafir dan memimpin rakyatnya untuk hidup dalam ketaatan kepada firman Tuhan.
Walaupun masih muda, raja Yosia menjadi pemimpin rohani bagi rakyatnya karena ia telah mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh sejak masih remaja (berusia enam belas tahun; 34:3 ). Memang, kedewasaan rohani tidak selalu sejalan dengan kedewasaan fisik. Usia tua dan lamanya seseorang menjadi Kristen tidak menjamin kedewasaan rohani seseorang. Seharusnya, semakin lama seorang beriman menjadi semakin dewasa secara rohani. Akan tetapi, pertumbuhan hanya terjadi bila kita sungguh-sungguh mencari Tuhan. Tanpa kesungguhan, seorang berusia lanjut yang sudah lama menjadi Kristen pun bisa kalah dewasa secara rohani dengan orang muda yang sungguh-sungguh mencari Tuhan.


