1. Anak-anak berpikir harafiah dan konkret
Ide-ide abstrak dan simbolis akan ditangkap menurut pengertian harafiah mereka. Misalnya saja, Monika, gadis kecil yang baru berusia lima tahun, ia berhenti mengucapkan doa malamnya pada minggu di mana ia dan keluarganya pindah ke rumah baru mereka. Ibu Monika menyangka keengganan putrinya untuk mengucapkan doa malam ini disebabkan karena kekecewaan Monika karena pindah dari rumah mereka yang lama. Namun demikian, Monika tampak benar-benar bahagia dengan rumah barunya dan lingkungan di sekitarnya. Akhirnya, setelah beberapa minggu berlalu, orangtua Monika baru mengerti alasan yang sebenarnya Monika enggan berdoa malam. Di rumah mereka yang lama, Monika dengan mudah memvisualisasikan bahwa doanya didengar Tuhan karena di dekat rumah mereka yang lama tersebut ada sebuah gereja. Tuhan, menurut pemikirannya yang lugu, tinggal di “rumah-Nya” yaitu di gereja. Dengan demikian ketika mereka harus pindah ke luar kota, pikiran dan keyakinannya tidak terentang cukup jauh untuk membayangkan bahwa Tuhan masih dapat mendengar doanya walaupun rumah mereka yang baru jauh dari gereja. Pemikirannya yang lugu membuatnya menciptakan gambaran bahwa Tuhan tinggal di dalam gereja, oleh karena itu di rumah lama doanya masih dapat didengar Tuhan karena dekat gereja.


